🌓 7 Unsur Kebudayaan Sumatera Selatan
Mengandungnilai-nilai kehidupan, unsur-unsur kebersamaan social serta keserasian dengan lingkungan hidup sekitar; Mengandung nilai-nilai kebudayaan yang unik dan khas; Ciri Khas Lagu Daerah. Menurut Subagyo (2010:5) lagu daerah juga memiliki beberapa ciri khas, yaitu : 1. Sederhana. Lagu daerah biasanya bersifat sederhana baik melodi maupun
PengenalanBudaya Minangkabau melalaui Makanan Khas Pesisir Selatan untuk Pengembangan Informational Book Pada Anak Usia 5-6 tahun di Taman Kanak-kanak. DOI: 10.31004/obsesi.vxix.xxx. Pengenalan Budaya Minangkabau melalaui Makanan Khas Pesisir Selatan untuk Pengembangan Informational Book Pada Anak Usia 5-6 tahun di Taman Kanak
PengertianUpacara Adat. Upacara adat terdiri dari dua istilah, yaitu upacara dan adat. Upacara diartikan sebagai suatu kegiatan yang dilakukan oleh sekelompok orang yang terikat dengan aturan tertentu yang sesuai dengan tujuan. Sedangkan adat adalah kebiasaan turun-temurun sekelompok masyarakat berdasarkan nilai budaya lingkungannya.
Berikutini adalah daftar 9 tarian adat Sumatera Selatan dan penjelasannya yang paling populer di Dunia. Di Sumatera Selatan ada sebuah budaya dimana orang tua dari mempelai laki-laki akan berkunjung ke rumah besan untuk menilai calon mantu nya. Tari Rodat Cempako adalah salah satu tarian dari Sumatera Selatan yang sangat kental unsur
PLNResmikan 7 Lokasi Listrik Desa Sumatera Selatan dan Serahkan Bantuan Tanggung Jawab Sosial serta semua unsur terkait atas dukungan yang diberikan sehingga PLN dapat merealisasikan listrik desa ini. “Program TJSL Kampung Malaka diberikan untuk mengoptimalkan objek daya tarik kampung wisata sebagai upaya pelestarian budaya setempat
Padusi", pementasan dengan unsur kebudayaan Minang di channel YouTube IndonesiaKaya pukul 15.00 WIB, Minggu. id padusi,teater,indonesia kaya Minggu, 11 Oktober 2020 10:42 WIB Pentas "Padusi" di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki Jakarta, Mei 2013.
4 Upacara Adat Perkawinan Aceh. Pernikahan adat Aceh. Dari daftar kebudayaan aceh yang kami bahas, masih dilengkapi dengan upacara adat yang biasanya diselenggarakan dengan tujuan dan fungsinya masing-masing. Ada beberapa upacara adat aceh yang menjadi tradisi masyarakat setempat seperti halnya upacara perkawinan.
Fenomenaupacara adat pernikahan di Sumatera Selatan sudah tidak semurni dahulu, karena upacara pernikahan pada zaman sekarang sudah terjadi pergeseran, sehingga unsur-unsur kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan itu sendiri. (Koentjaraningrat, 1980
NahdlatulUlama (NU) berdiri di Surabaya 16 Rajab 1344 H/ 31 Januari 1926, pada pra kemerdekaan, sudah menunjukan visi kebansaannya, ini dibutikan dengan perjuangan para Kyai, yang selalu mengumandangkan Indonesia Merdeka. KH. Hasyim Asy’ari sebagai Rois akbar NU pernah di tahan Jepang karena membangkang; ia tidak menyembah matahari (Saikere
. 1. Rumah Adat Di Sumatra Selatan, seperti halnya dengan daerah lain di Indonesia, terdapat karya seni arsitektur yaitu Rumah Limas dan masih bisa kita temukan sebagai rumah hunian di daerah Palembang. Rumah Limas Palembang telah diakui sebagai Rumah Adat Tradisional Sumatera Selatan. Secara umum arsitektur Rumah Limas Palembang, pada atapnya berbentuk menyerupai piramida terpenggal limasan. Keunikan rumah Limas lainnya yaitu dari bentuknya yang bertingkat-tingkat kijing. Dindingnya berupa kayu merawan yang berbentuk papan. Rumah Limas Palembang dibangun di atas tiang-tiang atau cagak. Tari Tanggai - Sumatera Selatan 2. Seni Tari 1. Tari Gending Sriwijaya Gending Sriwijaya merupakan lagu daerah dan juga tarian yang cukup populer dari kota Palembang Sumatera Selatan. Lagu Gending Sriwijaya ini dibawakan untuk mengiringi tari Gending Sriwijaya. Baik lagu maupun tarian ini menggambarkan keluhuran budaya, kejayaan, dan keagungan kemaharajaan Sriwijaya yang pernah berjaya mempersatukan wilayah Barat Nusantara Lirik lagu ini juga menggambarkan kerinduan seseorang akan zaman di mana pada saat itu Sriwijaya pernah menjadi pusat studi agama Buddha di dunia. Tari Gending Sriwijaya dari Sumatera Selatan ini dibawakan untuk menyambut tamu-tamu agung. Biasanya tarian ini dibawakan oleh sebanyak 13 orang penari, yang terdiri dari 9 orang penari inti dan 4 orang pendamping dan penyanyi Satu orang penari utama pembawa tepak tepak, kapur, sirih, Dua orang penari pembawa peridon perlengkapan tepak, Enam orang penari pendamping tiga dikanan dan tiga kiri, Satu orang pembawa payung kebesaran dibawa oleh pria, Satu orang penyanyi Gending Sriwijaya, Dua orang pembawa tombak pria. Namun saat ini penyanti gending sriwijaya sudah banyak digantikan dengan media digital dan elektronik seperti VCD maupun tape recorder. 2. Tari Tanggai Tari Tanggai merupakan tarian tradisional dari Sumatera Selatan yang juga dipersembahkan untuk menyambut tamu kehormatan. Berbeda dengan tari Gending Sriwijaya, Tari Tanggai dibawakan oleh lima orang dengan memakai pakaian khas daerah seperti kain songket, dodot, pending, kalung, sanggul malang, kembang urat atau rampai, tajuk cempako, kembang goyang, dan tanggai yang berbentuk kuku terbuat dari lempengan tembaga. Tari ini merupakan perpaduan antara gerak yang gemulai dengan busana khas daerah. Tarian ini menggambarkan masyarakat Palembang yang ramah dan menghormati, menghargai serta menyayangi tamu yang berkunjung ke daerahnya. 3. Tari Mejeng Basuko Tarian mejeng basuko adalah tarian khas muda mudi Sumatera Selatan Sumsel. Tarian ini menggambarkan muda mudi yang berkumpul dan bersenda gurau untuk menarik hati lawan jenisnya. Tak jarang ada yang sampai jatuh hati dan mendapatkan jodoh dari pertemuan tersebut. Tarian Rodat Cempako adalah tarian khas masyarakat Sumsel yang dipengaruhi oleh gerakan dari Timur Tengah. Tarian Rodat Cempako ini merupakan tarian masyarakat Sumsel yang bernafaskan Islam. 5. Tari Tenun Songket Tarian Tenun Songket dari Sumatera Selatan ini menggambarkan masyarkat Sumsel khususnya kaum wanita yang memanfaatkan waktu luangnya untuk menenun kain songket dan kerajinan tangan. 6. Tari Madik / Nindai Tari Madik / Nindai adalah tarian khas Sumatera Selatan yang menggambarkan proses pemilihan calon menantu. Di Sumatera Selatan terdapat kebiasaan dimana orang tua pria akan berkunjung ke rumah calon menantunya untuk melihat dan menilai Madik dan Nindai kepribadian sehari-hari calon menantu tersebut. 3. Pakaian Adat Pakaian Adat Sumatra Selatan bisa dikatakan sebagai simbol peradaban budaya masyarakat Sumatra Selatan. Karena di dalamnya terdapat unsur filosofi hidup dan keselarasan. Hal ini bisa dilihat dari pilihan warna dan corak yang menghiasi pakaian adat tersebut. Ditambah dengan kelengkapannya, makin menambah kesakralan yang nampak pada tampilan pakaian adat yang berfungsi sebagai identitas budaya masyarakat Sumatra Selatan. Aessan Gede dan Aesan Paksangko Pakaian adat Suamtra Selatan sangat terkenal dengan sebutan Aesan gede yang melambangkan kebesaran, dan pakaian Aesan paksangko yang melambangkan keanggunan masyarakat Sumatera Selatan. Pakaian adat ini biasanya hanya digunakan saat upacara adat perkawinan. Dengan pemahaman bahwa upacara perkawinan ini merupakan upacara besar. Maka dengan menggunakan Aesan Gede atau Aesan Paksangko sebagai kostum pengantin memiliki makna sesuatu yang sangat anggun, karena kedua pengantin bagaikan raja dan antara corak Aesan Gede dan Aesan Paksongko, jika dirinci sebagai berikut; gaya Aesan Gede berwarna merah jambu dipadu dengan warna keemasan. Kedua warna tersebut diyakini sebagai cerminan keagungan para bangsawan Sriwijaya. Apalagi dengan gemerlap perhiasan pelengkap serta mahkota Aesan Gede, bungo cempako, kembang goyang, dan kelapo standan. Lalu dipadukan dengan baju dodot serta kain songket lepus bermotif napan perak. Pada Aesan Paksangkong. Bagi laki-laki menggunakan songket lepus bersulam emas, jubah motif tabor bunga emas, selempang songket, seluar, serta songkok emeas menghias kepala. Dan bagi perempuan menggunakan teratai penutup dada, baju kurung warna merah ningrat bertabur bunga bintang keemasan, kain songket lepus bersulam emas, serta hiasan kepala berupa mahkota Aesan Paksangkong. Tak ketinggalan pula pernak-pernik penghias baju seperti perhiasan bercitrakan keemasan, kelapo standan, kembang goyang, serta kembang kenango. 4. Senjata Tradisonal Senjata Tradisional Sumatera Selatan yang beribuka di Palembang memiliki banyak kesamaan dengan senjata tradisional provinsi lainnya di Pulau Sumatera dan Kepulauan Riau. Namun ada satu senjata yang memang khas Palembang. Senjata tersebut adalah Tombak Trisula. Seperti halnya rencong dari aceh, kujang dari sunda, atau mandau dari Kalimantan, tombak trisula memang sudah dikenal berasal dari Palembang. Namun belum diketahui secara pasti sejak kapan trisula ini menjadi senjata tradisional di Palembang. Diduga perkembangan trisula menjadi senjata tradisional di Palembang ada kaitannya dengan perkembangan kebudayaan Hindu yang ada pada masa kerajaan Sriwijaya yang berpusat di Palembang. Hal ini dapat dilihat dari bentuk tombak trisula yang mirip dengan trisula yang ada di kuil kuil Hindu yaitu senjata yang dipegang oleh Dewa Siwa. Walaupun senjata tombak trisula ini juga dipergunakan oleh banyak negara, akan tetapi yang khas dari trisula palembang adalah kedua sisi tombak tersebut dapat dipergunakan sebagai senjata. Satu sisi tombak berbentuk trisula sedangkan sisi lainnya merupakan mata tombak biasa. Selain Tombak Trisula sebagai senjata tradisional Palembang, masyarakat palembang juga mengenal keris sebagai senjata tradisional. Walaupun pada zaman sekarang replikasi keris dipergunakan sebagai pelengkap pakaian tradisional dari Sumatera Selatan. Demikian Sobat, ulasan mengenai senjata tradisional dari Sumatera Selatan. Semoga bermanfaat. 5. Lagu Daerah 1. Pempek Lenzer 2. Kabile Bile 3. Dirut 4. Dek Sangke 5. Kapal Selam 6. Cup Mak Ilang 7. Petang – Petang Bari Diwaktu Malam Sriwjaya 6. Bahasa Bahasa Palembang berasal dari bahasa Melayu Tua yang berbaur dengan bahasa Jawa dan diucapkan menurut logat/dialek wong Palembang. Seterusnya bahasa yang sudah menjadi milik wong Palembang ini diperkaya pula dengan bahasa-bahasa Arab, Urdhu, Persia, Cina, Portugis, Iggris dan Belanda. Sedangkan Aksara bahasa Melayu Palembang, menggunakan aksara Arab Arab-Melayu atau tulusan Arab berbahasa Melayu Arab Gundul/Pegon. Bahasa Palembang terdiri dari dua tingkatan, pertama merupakan bahasa sehari-hari yang digunakan hampir oleh setiap orang di kota ini atau disebut juga bahasa pasaran. Kedua, bahasa halus Bebaso yang digunakan oleh kalangan terbatas, Bahasa resmi Kesultanan. Biasanya dituturkan oleh dan untuk orang-orang yang dihormati atau yang usianya lebih tua. Seperti dipakai oleh anak kepada orang tua, menantu kepada mertua, murid kepada guru, atau antar penutur yang seumur dengan maksud untuk saling menghormati, karena Bebaso artinya berbahasa sopan dan halus. Suku Kubu - Suku Asi Sumatera Selatan - Jambi 7. Suku Suku Kubu merupakan suku asli pedalaman yang menempati wilayah Sumatera Selatan dan Jambi selain tu terdapat 12 Suku Besar yang ada di Sunmatera Selatan, diantaranya 1. Suku Komering Komering merupakan salah satu suku atau wilayah budaya di Sumatra Selatan, yang berada di sepanjang aliran Sungai Komering. Seperti halnya suku-suku di Sumatra Selatan, karakter suku ini adalah penjelajah sehingga penyebaran suku ini cukup luas hingga ke Lampung. Suku Komering terbagi atas dua kelompok besar Komering Ilir yang tinggal di sekitar Kayu Agung dan Komering Ulu yang tinggal di sekitar kota Baturaja. Suku Komering terbagi beberapa marga, di antaranya marga Paku Sengkunyit, marga Sosoh Buay Rayap, marga Buay Pemuka Peliyung, marga Buay Madang, dan marga Semendawai. Wilayah budaya Komering merupakan wilayah yang paling luas jika dibandingkan dengan wilayah budaya suku-suku lainnya di Sumatra Selatan. Selain itu, bila dilihat dari karakter masyarakatnya, suku Komering dikenal memiliki temperamen yang tinggi dan keras. Berdasarkan cerita rakyat di masyarakat Komering, suku Komering dan suku Batak, Sumatra Utara, dikisahkan masih bersaudara. Kakak beradik yang datang dari negeri seberang. Setelah sampai di Sumatra, mereka berpisah. Sang kakak pergi ke selatan menjadi puyang suku Komering, dan sang adik ke utara menjadi puyang suku Batak. 2. Suku Palembang Kelompok suku Palembang memenuhi 40 - 50% daerah kota palembang. Suku Palembang dibagi dalam dua kelompok Wong Jeroo merupakan keturunan bangsawan/hartawan dan sedikit lebih rendah dari orang-orang istana dari kerajaan tempo dulu yang berpusat di Palembang, dan Wong Jabo adalah rakyat biasa. Seorang yang ahli tentang asal usul orang Palembang yang juga keturunan raja, mengakui bahwa suku Palembang merupakan hasil dari peleburan bangsa Arab, Cina, suku Jawa dan kelompok-kelompok suku lainnya di Indonesia. suku Palembang sendiri memiliki dua ragam bahasa, yaitu Baso Palembang Alus dan Baso Palembang Sari-Sari. Suku Palembang masih tinggal/menetap di dalam rumah yang didirikan di atas air. Model arsitektur rumah orang Palembang yang paling khas adalah rumah Limas yang kebanyakan didirikan di atas panggung di atas air untuk melindungi dari banjir yang terus terjadi dari dahulu sampai sekarang. Di kawasan sungai Musi sering terlihat orang Palembang menawarkan dagangannya di atas perahu. 3. Suku Gumai Suku Gumai adalah salah satu suku yang mendiami daerah di Kabupaten Lahat. Sebelum adanya Kota Lahat, Gumai merupakan satu kesatuan dari teritorial GUMAI, yaitu Marga Gumai Lembak, Marga Gumai Ulu dan Marga Gumai Talang. Setelah adanya kota Lahat, maka Gumai menjadi terpisah dimana Gumai Lembak dan Gumai Ulu menjadi bagian dari Kecamatan Pulau Pinang sedangkan Gumai Talang menjadi bagian dari Kecamatan Kota Lahat. 4. Suku Semendo Suku Semendo berada di Kecamatan Semendo, Kabupaten Muara Enim, Propinsi Sumatera Selatan. Menurut sejarahnya, suku Semendo berasal dari keturunan suku Banten yang pada beberapa abad silam pergi merantau dari Jawa ke pulau Sumatera, dan kemudian menetap dan beranak cucu di daerah Semendo. Hampir 100% penduduk Semendo hidup dari hasil pertanian, yang masih diolah dengan cara tradisional. Lahan pertanian di daerah ini cukup subur, karena berada kurang lebih 900 meter di atas permukaan laut. Ada dua komoditi utama dari daerah ini kopi jenis robusta dengan jumlah produksi mencapai 300 ton per tahunnya, dan padi, dimana daerah ini termasuk salah satu lumbung padi untuk daerah Sumatera Selatan. Adat istiadat serta kebudayaan daerah ini sangat dipengaruhi oleh nafas keIslaman yang sangat kuat. Mulai dari musik rebana, lagu-lagu daerah dan tari-tarian sangat dipengaruhi oleh budaya melayu Islam. Bahasa yang digunakan dalam pergaulan sehari-hari adalah bahasa Semendo. Setiap kata pada setiap bahasa ini umumnya berakhiran "e." 5. Suku Lintang Kawasan pegunungan Bukit Barisan di Sumatera Selatan merupakan tempat tinggal suku Lintang, diapit oleh suku Pasemah dan Rejang. Suku Lintang merupakan salah satu suku Melayu yang tinggal di sepanjang tepi sungai Musi di Propinsi Sumatera Selatan. Suku Melayu Lintang hidup dari bercocok tanam yang menghasilkan kopi, beras, kemiri, karet dan sayur-sayuran. Mereka juga beternak kambing, kerbau, ayam, itik, bebek, dll. Mereka tidak mencari nafkah di sektor perikanan walaupun tinggal di tepi sungai. Orang Lintang adalah penganut Islam yang cukup kuat. Hal ini terlihat dengan banyaknya mesjid-mesjid dan pesantren untuk melatih kaum mudanya. 6. Suku Kayu Agung Suku Kayu Agung berdomisili di Sumatera Selatan, tepatnya di Kabupaten Ogan Komering Ilir dengan ibukotanya Kayu Agung. Wilayah ini dialiri sungai Komering. Bahasanya terdiri atas dua dialek, yaitu dialek Kayu Agung dan dialek Ogan. Mata pencaharian suku ini bertani, berdagang, dan membuat gerabah dari tanah liat. Bentuk pertanian kebanyakan bersawah tahunan karena daerahnya terdiri dari rawa-rawa. Jadi sawah hanya dikerjakan saat musim hujan. Suku Kayu Agung mayoritas beragama Islam, tetapi mereka juga mempertahankan kepercayaan lama, yaitu kepercayaan mengenai dunia roh. Suku Kayu Agung percaya bahwa roh-roh nenek moyang dapat mengganggu manusia. Oleh karena itu, sebelum mayat dikubur harus dimandikan dengan bunga-bunga supaya arwah roh yang mati lupa jalan ke rumahnya. Mereka juga percaya akan dukun yang membantu dalam upacara pertanian, baik saat menanam maupun saat panen. Selain itu ada tempat-tempat keramat yang mereka anggap sebagai tempat bersemayamnya para arwah. 7. Suku Lematang Suku Lematang tinggal di daerah Lematang yang terletak di antara Kabupaten Muara Enim dan Kabupaten Lahat. Daerah ini berbatasan dengan daerah Kikim dan Enim. Suku ini menempati wilayah di sepanjang sungai Lematang, di sekitar kota Muaraenim dan kota Prabumulih. Asal usul orang Lematang dari kerajaan Majapahit, keturunan orang Banten dan Wali Sembilan. Orang Lematang sangat terbuka dan memiliki sifat ramah tamah dalam menyambut setiap pendatang yang ingin mengetahui seluk beluk dan keadaan daerah dan budayanya. Mereka juga memiliki rasa kebersamaan yang tinggi. Hal itu terbukti dari sikap gotong royong dan tolong menolong bukan hanya kepada masyarakat Lematang sendiri tetapi juga kepada masyarakat luar. 8. Suku Ogan Suku Ogan terletak di Kabupaten Ogan Komering Ulu dan Ogan Komering Ilir. Mereka mendiami tempat sepanjang aliran Sungai Ogan dari Baturaja sampai ke Selapan. Orang ogan biasa juga disebut orang Pagagan. Suku Ogan terbagi menjadi 3 tiga sub-suku, yakni Suku Pegagan Ulu, Suku Penesak, dan Suku Pegagan Ilir. Kelompok masyarakat ini adalah penduduk asli dan bertani, tetapi banyak juga yang menjadi pegawai negeri. Makanan pokok suku ini ialah hasil pertanian. 9. Suku Pasemah Suku Pasemah adalah suku yang mendiami wilayah kabupaten Empat Lawang, kabupaten Lahat, Ogan Komering Ulu, dan di sekitar kawasan gunung berapi yang masih aktif, gunung Dempo. Suku bangsa ini juga banyak yang merantau ke daerah-daerah di provinsi Bengkulu. Menurut sejarah, suku ini berasal dari keturunan Raja Darmawijaya Majapahit yang menyeberang ke Palembang pulau Perca. Suku ini banyak yang tersebar di pegunungan Bukit Barisan, khususnya di lereng-lerengnya. Menurut mitologi nama Pasemah berasal dari kata Basemah yang berarti berbahasa Melayu. Hasil utama masyarakat suku ini ialah kopi, sayur-sayuran dan cengkeh dengan makanan pokoknya ialah beras. 10. Suku Sekayu Suku Sekayu terletak di Propinsi Sumatera Selatan. Dalam wilayah Kabupaten Musi Banyuasin. Mayoritas penduduknya petani. Hasil pertaniannya adalah padi, singkong, ubi, jagung, kacang tanah dan kedelai. Hasil perkebunan yang menonjol adalah karet, cengkeh dan kopi. Industri rakyat yang terkenal berupa bata dan genteng. Suku Sekayu merupakan "manusia sungai" dan senang mendirikan rumah-rumah yang langsung berhubungan dengan sungai Musi. Tidak seperti umumnya suku-suku di Indonesia, suku Bugis, Minangkabau atau Jawa, suku Sekayu jarang berpindah-pindah ke tempat yang jauh. Keinginan untuk lebih maju dan mencari keberuntungan mereka lakukan hanya sampai di ibukota propinsi. Suku Sekayu yang tinggal di Palembang menduduki sektor-sektor pekerjaan yang penting, mulai dari guru besar/dosen universitas, ahli riset, hartawan dan pengembang lahan, pekerja galangan dan penarik becak. 11. Suku Rawas Suku ini terletak di wilayah propinsi Sumatera Selatan, tepatnya di sekitar dua aliran sungai Rawas dan sungai Musi bagian utara. Suku ini menempati wilayah di Kecamatan Rawas Ulu, Rawas Ilir, dan Muararupit, di Kabupaten Musi Rawas. Bahasa Rawas masih tergolong ke dalam rumpun melayu. Di wilayah ini banyak terdapat kebun karet rakyat. 12. Suku Banyuasin Suku ini terutama tinggal di kab. Musi Banyuasin yaitu di kec. Babat Toman, Banyu Lincir, Sungai Lilin, dan Banyuasin Dua dan Tiga. Umumnya mereka tinggal di dataran rendah yang diselingi rawa-rawa dan berada di daerah aliran sungai. Sungai terbesar adalah sungai Musi yang memiliki banyak anak sungai. Mata pencaharian pokoknya adalah bertani di sawah dan ladang. Mereka masih percaya terhadap berbagai takhyul, tempat keramat dan benda-benda kekuatan gaib. Mereka juga menjalani beberapa upacara dan pantangan.
0% found this document useful 0 votes554 views14 pagesDescriptionUnsur budaya sumatera selatanCopyright© © All Rights ReservedAvailable FormatsDOCX, PDF, TXT or read online from ScribdShare this documentDid you find this document useful?0% found this document useful 0 votes554 views14 pagesUnsur-Unsur Budaya Sumatera SelatanJump to Page You are on page 1of 14 You're Reading a Free Preview Pages 6 to 12 are not shown in this preview. Reward Your CuriosityEverything you want to Anywhere. Any Commitment. Cancel anytime.
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Kearifan Lokal memiliki hubungan yang erat dengan kebudayaan tradisional di suatu wilayah dan daerah. Kearifan lokal biasanya mengandung nilai, aturan, dan norma yang diajarkan secara turun temurun, diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya yang berhubungan dengan sikap dan perilaku masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Kearifan lokal yang diajarkan secara turun temurun tersebut merupakan kebudayaan yang patut untuk dijaga dan dilestarikan oleh setiap wilayah yang masing-masing memiliki kebudayaan tradisional merupakan negara yang sangat luas yang dikenal sebagai negara yang multikultur dan memiliki banyak keberagaman serta kearifan lokal yang merupakan jati diri bangsa. Setiap kearifan lokal di Indonesia patut untuk dikembangkan dan dijaga keberadaannya sebagai identitas bangsa agar tetap dikenal oleh generasi muda. Koentjaraningrat M. Munandar Soelaeman, 2007 62 mengatakan bahwa kebudayaan nasional Indonesia berfungsi sebagai pemberi identitas kepada sebagian warga dari suatu nasional, merupakan kontinuitas sejarah dari zaman kejayaan bangsa Indonesia di masa yang lampau sampai kebudayaan nasional masa kini. Salah satu dari beragam budaya yang ada berasal dari provinsi tuan rumah Asian Games 2018, Sumatera Selatan. Nama budaya tersebut adalah tarian Gending Sriwijaya. Secara harfiah, Tarian Gending Sriwijaya diartikan sebagai "irama Kerajaan Sriwijaya". Tarian tradisional ini melukiskan kegembiraan gadis-gadis Palembang saat menerima kunjungan tamu yang diagungkan dengan menyajikan untuk para tamu Tepak yang berisikan kapur sirih yang merupakan tradisi lokal sebagai simbol pembuka kata atau penghormatan kepada para tamu. Tarian ini diciptakan oleh Tina Haji Gong dan Sukaina A. Rozak sejak tahun 1943-1944 untuk memenuhi permintaan dari pemerintah Era pendudukan Jepang kepada jawatan Penerangan Hodohan untuk menciptakan sebuah tarian dan lagu guna menyambut tamu yang datang berkunjung Keresidenan Palembang Sekarang Provinsi Sumatera Selatan.Makna Tarian dan Gerakan Gending Sriwijaya Tarian ini menjadi simbol hubungan antara manusia dengan pencipta, manusia dengan manusia, dan juga hubungan manusia dengan semesta alam. Beliau juga mengatakan bahwa ragam gerak yang terkandung dalam Tarian Gending Sriwijaya ini mengandung makna tentang kehidupan dan juga sebagai sarana mengenang masa-masa kejayaan Sriwijaya di Sumatera Selatan. Selain itu juga tarian ini menggambarkan sikap masyarakat Sumatera Selatan yang ramah tamah dalam menyambut tamu-tamu yang yang ditarikan juga mengandung makna tersendiri yang menggambarkan corak kehidupan masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Sumatera Selatan. Beberapa gerakan khas dari Gending Sriwijaya beserta makna di dalamnya adalahGerakan sembah berdiri Gerakan ini merupakan simbol dari ketaatan masyarakat Sumatera Selatan khususnya Palembang kepada Tuhan. Dalam gerakan ini juga terbesit nilai toleransi antar sesama umat ibu jari dan jari tengah Pada saat menarikan tari Gending Sriwijaya, penari menjentikan ibu jari dengan jari tengah, kemudian melakukan gerakan saling melepas yang sesuai dengan irama. Gerakan ini melambangkan kedisiplinan dan kerja keras masyarakat Palembang Sumatera Selatan.Sekapur Sirih Dalam tarian ini, sirih digunakan sebagai properti dan juga simbol akan kerendahan hati. Dilihat dari cara hidup tanaman sirih, tanaman ini tidak merugikan pihak lain. Sifat inilah yang ingin ditampilkan dari penggunaan sirih. Budi pekerti dan juga loyalitas yang tinggi digambarkan melalui penggunaan pinang berbatang lurus. Sedangkan kesabaran dan sikap pantang menyerah demi mencapai kesuksesan digambarkan oleh komponen gambir, yang sebelumnya diproses dahulu sebelum kemudian digunakan menginang bersama sirih. Secara garis besar, Tarian Gending Sriwijaya mengandung makna bahwa masyarakat Palembang dan Sumatera Selatan memiliki sifat tawakal, rendah hati, peduli, saling bekerja sama dan rukun, mandiri, setia serta Tarian Gending Sriwijaya Talent yang menampilkan tarian ini berjumlah 13 orang, di mana terdapat 9 orang penari perempuan yang menggambarkan Batanghari Sembilan sebagai penari inti, 3 orang penari laki-laki dan juga satu orang yang melantunkan lagu Gending Sriwijaya. Selain untuk menggambarkan Batanghari Sembilan, formasi penari yang berjumlah ganjil ini menjadi simbol akan kesatuan yang dipimpin oleh seorang pemimpin. Hal tersebut merupakan pengejawantahan bahwa manusia dikendalikan oleh satu kekuatan yaitu Tuhan Yang Maha Esa. 1 2 3 Lihat Sosbud Selengkapnya
7 unsur kebudayaan sumatera selatan